HOME

Tampilkan postingan dengan label DAKWAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DAKWAH. Tampilkan semua postingan

18 Maret, 2024

DALIL PUASA RAMADHAN DALAM AL-QUR'AN DAN HADIST

 

Dalil Puasa Ramadhan dalam Al-Qur'an

Berikut empat dalil tentang puasa Ramadhan yang ada dalam Al-Qur'an:

1. Surah Al-Baqarah Ayat 183

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Arab Latin: Yâ ayyuhalladzîna âmanû kutiba 'alaikumush-shiyâmu kamâ kutiba 'alalladzîna ming qablikum la'allakum tattaqûn.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."(1)

 

2. Surah Al-Baqarah Ayat 184

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ - ١٨٤

Arab Latin: Ayyâmam ma'dûdât, fa mang kâna mingkum marîdlan au 'alâ safarin fa 'iddatum min ayyâmin ukhar, wa 'alalladzîna yuthîqûnahû fidyatun tha'âmu miskîn, fa man tathawwa'a khairan fa huwa khairul lah, wa an tashûmû khairul lakum ing kuntum ta'lamûn.

Artinya: "(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

 

3. Surah Al-Baqarah Ayat 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Arab Latin: Syahru ramadlânalladzî unzila fîhil-qur'ânu hudal lin-nâsi wa bayyinâtim minal-hudâ wal-furqân, fa man syahida mingkumusy-syahra falyasumhu, wa mang kâna marîdlan au 'alâ safarin fa 'iddatum min ayyâmin ukhar, yurîdullâhu bikumul-yusra wa lâ yurîdu bikumul-'usra wa litukmilul-'iddata wa litukabbirullâha 'alâ mâ hadâkum wa la'allakum tasykurûn.

Artinya: Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.

 

4. Surah Al-Baqarah Ayat 187

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ

Arab Latin: Uḫilla lakum lailatash-shiyâmir-rafatsu ilâ nisâ'ikum, hunna libâsul lakum wa antum libâsul lahunn, 'alimallâhu annakum kuntum takhtânûna anfusakum fa tâba 'alaikum wa 'afâ 'angkum, fal-âna bâsyirûhunna wabtaghû mâ kataballâhu lakum, wa kulû wasyrabû ḫattâ yatabayyana lakumul-khaithul-abyadlu minal-khaithil-aswadi minal-fajr, tsumma atimmush-shiyâma ilal-laîl, wa lâ tubâsyirûhunna wa antum 'âkifûna fil-masâjid, tilka ḫudûdullâhi fa lâ taqrabûhâ, kadzâlika yubayyinullâhu âyâtihî lin-nâsi la'allahum yattaqûn.

Artinya: "Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa."(2)

 

Dalil Puasa Ramadhan dalam Hadits

Selain dalil dalam Al-Qur'an, dalil tentang puasa Ramadhan juga terdapat dalam hadits-hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh beberapa imam besar. Misalnya Imam Ahmad, Imam Muslim, Imam Bukhari, Imam Tirmidzi, Imam Baihaqi, dan lain-lain.

Berikut beberapa hadits yang menyebutkan tentang puasa Ramadhan:

1. Hadits Riwayat Ahmad

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ

Artinya: "Telah datang Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu, saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan."

 

مَنْ فَطَرَ صَائِمًا كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أجْرِ الصَّا ئِمِ لَا يَنْقُصَ مِنْ أجْرِ الصَّائِمِ شَيْئٌ

Artinya: "Barangsiapa memberi perbukaan (makanan atau minuman) kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut."

 

اَلصُّيَامُ وَاْلقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يَقُوْلُ اَلصِّيَامُ أيْ رَبِّ مَنَعْتُهُُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتَ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فَيْهِ وَيَقُوْلُ اْلقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِالَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيْهِ قَالَ فَيُشَفِّعَانِ

Artinya: "Puasa dan Al-Qur'an akan memberikan syafaat seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: "Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari", ِAl-Qur' an juga berkata: "Aku mencegahnya dari tidur dimalam hari, maka kami mohon syafaat buat dia." Beliau bersabda: "Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat."

 

2. Hadits Riwayat Muslim

اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَاُن إلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاةٌ مَا بَيْنَهُنَّ إذَاجْتَنَبَ اْلكَبَائِرَ

Artinya: "Jarak antara shalat lima waktu, shalat jum'at dengan jum'at berikutnya dan puasa Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya merupakan penebus dosa-­dosa yang ada diantaranya, apabila tidak melakukan dosa besar."

 

3. Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: "Barangsiapa berpuasa dibulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

 

4. Hadits Riwayat Baihaqi

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ ؛دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

Artinya: "Ada tiga macam doa yang mustajab, yaitu doa orang yang sedang puasa, doa musafir dan doa orang yang teraniaya." (3)

 

5. Hadits Riwayat Bukhari

حَدِيثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ: لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُواأخرجه البخاري

Artinya: Abdullah bin Umar berkata: "Ketika menyebut Ramadhan, Rasulullah bersabda: 'Jangan puasa sampai kalian melihat hilal (bulan sabit) dan jangan berhari raya sampai melihat hilal, jika (hilal) tertutup oleh awan, maka sempurnakanlah (bilangan bulan menjadi 30 hari)."

 

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يَتَقَد مَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمٍ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ أخرجه البخارى

Artinya: "Abu Hurairah berkata: "Nabi Muhammad SAW bersabda: 'Jangan ada

orang yang mendahului puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali bagi orang yang biasa puasa hari itu, maka ia boleh puasa hari itu."(4)

Nah, itulah tadi 12 dalil tentang puasa Ramadhan yang ada dalam Al-Qur'an dan hadits. Semoga bermanfaat ya!

 

Sumber:

1. Buku Mengungkap Tabir Puasa Ramadhan yang ditulis oleh KH. Cholil Nafis, Lc., Ph.D

2. Buku Tafsir Ayat-ayat Puasa yang ditulis oleh Dr. Achyar Zein, M.Ag

3. Laman Nahdlatul Ulama 'Dalil Tentang Keutamaan dan Keistimewaan Bulan Suci Ramadhan'

4. Buku Shahih Bukhari Muslim yang ditulis oleh Muhammad Fu'ad Abdul Baqi

 

NAMA LAIN DARI BULAN RAMADHAN

 


merupakan bulan yang paling istimewa dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Salah satu keistimewaan bulan ini, yaitu memiliki beberapa nama lain yang mencerminkan keberkahan Ramadhan yang dapat diraih bagi yang menjalaninya dengan benar.

Oleh karena itu, alangkah baiknya umat Islam menyambut dan melaksanakan ibadah pada bulan Ramadhan ini dengan penuh kegembiraan dan suka cita, karena pada bulan ini Allah SWT membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka, serta membelenggu setan.

Selain itu, umat Muslim yang bergembira atas datangnya bulan suci Ramadhan dan mengisinya dengan segala amalan serta ibadah kepada Allah, akan diharamkan tubuhnya dari api neraka. Sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:

“Barangsiapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka.” (HR. Nasa’i)

Dengan demikian, Ramadhan adalah tamu yang sangat agung yang selalu dinanti oleh kaum Muslimin di seluruh dunia. Ada beberapa hikmah dari bulan Ramadhan yang penuh berkah ini yang sesuai dengan nama-namanya, antara lain yaitu:

1. Syahrul Mubarok (bulan yang penuh keberkahan)

Disebut sebagai Syahrul Mubarok karena di dalamnya ada banyak kebaikan dan keberkahan yang bisa didapatkan. Baik itu kebaikan untuk diri sendiri maupun yang bersifat sosial.

Keberkahan lainnya yakni adanya malam Lailatul Qadar yang akan tiba di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti yang diketahui, pada malam tersebut terdapat nilai ibadah yang lebih baik dari 1000 bulan. Jelas ini menjadi berkah yang luar biasa bagi umat Muslim guna mempersiapkan timbangan amal di akhirat kelak.

2. Syahrul Qiyaam (bulan didirikannya sholat)

Selama bulan Ramadhan, Allah SWT akan melipatgandakan pahala atas amal kebaikan dan ibadah yang dikerjakan umatnya. Oleh karena itu, tidak sedikit umat Muslim yang meramaikan setiap malam di bulan Ramadhan dengan ibadah sholat tarawih.

3. Syahrul Quran (bulan Alquran)

Alquran diturunkan pertama kali pada bulan Ramadhan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Alquran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia untuk menjelaskan mana yang haq dan yang bathil.

Karenanya, pada bulan Ramadhan umat Islam dianjurkan untuk selalu membaca dan mengamalkan Alquran guna meraih keberkahan hidup.

4. Syahrul Ibadah (bulan ibadah)

Dinamakan sebagai bulan ibadah sebab pahala beribadah di bulan Ramadhan ini berbeda dengan pahala di bulan lain. Oleh karena itu, hendaknya untuk selalu memperbanyak ibadah-ibadah sunnah di samping ibadah wajib. Misalnya menunaikan sholat sunnah dhuha, rawatib, dan tarawih (qiyamullail), serta membaca Alquran, karena segala pahala yang dilakukannya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

5. Syahrul Ghufron (bulan penuh pengampunan)

Selain penuh keberkahan, bulan Ramadhan juga dikenal sebagai bulan yang penuh dengan pengampunan dari Allah SWT. Pada bulan ini, Allah SWT membuka pintu pengampunan seluas-luasnya dan pembebasan dari api neraka bagi siapa saja yang memohon ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan semasa hidup.

6. Syahrush Shobr (bulan kesabaran)

Nama lain dari bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran atau Syahruh Shobr. Sebab, bulan Ramadhan adalah momen untuk mendidik, melatih, dan menempa pribadi seorang Muslim untuk selalu bersabar. Yakni, bersabar dalam menunaikan ketaatan, menjauhi kemaksiatan, dan ketika ditimpa musibah agar dirinya menjadi orang yang beruntung di hadapan Allah SWT.

7. Syahrul Jud (bulan memberi atau bulan kedermawanan)

Bulan Ramadhan juga dinamakan dengan bulan memberi, bermurah tangan, dan berbuat kebaikan kepada manusia atau membantu para fakir miskin. Jadi, untuk memperoleh keutamaan bulan suci ini dari Allah SWT, umat Muslim dianjurkan agar selalu bermurah hati untuk menolong dan membantu sesama.

8. Syahrut Tarbiyah (bulan pendidikan dan pembinaan)

Bulan Ramadhan disebut dengan bulan pendidikan karena pada bulan ini umat Muslim dididik langsung oleh Allah SWT. Antara lain makan pada waktu yang telah ditetapkan, selalu sabar, menghindari kemaksiatan, banyak melakukan ibadah, berkelakuan baik, dermawan, dan amalan lainnya.

Hikmah puasa Ramadhan yang paling utama adalah memperbanyak amal dan membentuk kepribadian muslim yang bertaqwa.

Karena itu, ibadah ini tidak terbatas hanya menahan lapar dan dahaga serta syahwat dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Tapi ada hikmah dan filosofi atau makna yang terkandung dalam ibadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh.

Hal terberat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan justru mengendalikan hati, pikiran, dan anggota badan dari hal-hal yang bisa menimbulkan dosa. Misalnya mengendalikan hati dari iri dan dengki, mengendalikan pikiran dari prasangka buruk, atau menahan pandangan mata dari sesuatu yang menimbulkan syahwat.

Sejatinya setiap ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT tentunya memiliki hikmah dengan pemahanan filosofi dan makna mendalam yang perlu umat Islam pahami dan mengerti. Sehingga ketika melakukan ibadah puasa Ramadan tidak hanya ikut-ikutan saja.

Karena dalam melaksanakan ibadah ini, seorang muslim harus memiliki niat yang kuat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta berusaha meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

29 Januari, 2024

CONTOH MEMPERKENALKAN DIRI DALAM BAHASA ARAB

 

 CONTOH MEMPERKENALKAN DIRI DALAM BAHASA ARAB

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

أُسْتَاذِي الفَاضِلُ وَأَصْدِقَائِيْ الأَحِبَّاء

Guruku yang terhormat dan teman-temanku yang tercinta   

 

اِسْـمَحُوا لِي أَنْ أُعَرِّفَ نَفْسِي لَكُمْ جَـمِيْعًا

Izinkan aku untuk memperkenalkan diriku kepada kalian semua

 

اِسْـمِي عَبْدُ اللهِ لُطْفِي وَيُنَادُوْنَنِـي بِـلُطْفِي

Namaku Abdullah Luthfi dan mereka biasa memanggilku 'Luthfi'

 

وُلِدْتُ فِي سُوْرَبَايَا، في التَارِيْخِ السَّابِــعِ وَ اْلعِشْرِيْنَ مِنْ نُوْفَمْبِرْ سَنَةَ أَلْفَيْنِ وَتِسْعٍ

Saya lahir Surabaya tanggal 27 November 2009.

 

وَالآنْ عُمْرِيْ أَرْبَعَ عَشرَةَ سَنَةً

Umur saya sekarang 12 tahun

 

أَنَا تِلْمِيْذٌ/ أَنَا تِلْمِيْذَةٌ

Saya seorang siswa/siswi

 

 فِى الْمَدْرَسَةِ اْلمُتَوَسِّطَة الْثَّانِيَة الْحُكُوْمِيَّة بِسُوْرَبَايَا

MTsN 2 Surabaya

 

جَلَسْتُ فِى صَفِّ التَّاسِع - B

Saya di kelas 9 B

 

عُنْوَانُ بَيْتِيْ فِي شَارِع مُوْسْتِيْكَا رَقْمُ الوَاحِد

Alamat rumahku di Jalan Mustika nomor satu

 

هِوَايَتِيْ الكِتَابَةُ وَ اْلقِرَأَةُ وَ الرِّيَاضَةُ

Hobi saya menulis, membaca dan olahraga

 

شِعَارِيْ "كُنْ عَالِمًا وَلَا تَكُنْ جَاهِلًا!"

Motto hidup saya adalah ~ Jadilah orang yang berilmu dan jangan jadi orang yang bodoh!!!

 

أُحِبُّ اللُّغَةَ العَرَبِيَّة، لِأَ نَّهاَ لُغَةَ القُرْآنِ وَالسُّنَّةِ.

Saya menyukai bahasa Arab karena ia merupakan bahasa Al-Qur’an dan Al-Hadits

 

 شُكْرًا عَلَي حُسْنِ اهْتِمَامِكُمْ

Terimakasih atas perhatiannya

 

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْـمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh



#KLIK DI BAWAH INI UNTUK#

28 Januari, 2024

Materi Akidah Akhlak Kelas VII Semester Genap BAB II : Iman Kepada Para MAlaikat

 

BAB II : Iman Kepada Para Malaikat

PEMBAHASAN

 

1.      Malaikat

Pengertian Malaikat

Menurut bahasa, kata “Malaikat”   (المَلاَئِكَةmerupakan kata jamak yang berasal dari kata mufrad  malak (مَلَكٌ) yang berarti kekuatan. Dalam mengemban misi dan  tugasnya, para malaikat juga disebut dengan “arrusul” yang berarti para utusan Allah SWT.

Malaikat diciptakan oleh Allah terbuat dari cahaya (nur), berdasarkan salah satu hadist Muhammad, “Malaikat telah diciptakan dari cahaya.”

Iman kepada malaikat adalah bagian dari Rukun Iman. Iman kepada malaikat maksudnya adalah meyakini adanya malaikat, walaupun kita tidak dapat melihat mereka, dan bahwa mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Allah menciptakan mereka dari cahaya. Mereka menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya, mereka tidak pernah berdosa. Tak seorang pun mengetahui jumlah pasti malaikat, hanya Allah saja yang mengetahui jumlahnya.

Nama dan Tugas-Tugas Malaikat

Adapun tugas-tugas yang paling besar dilaksanakan oleh 10 malaikat, yaitu:

-          Malaikat Jibril, bertugas menyampaikan wahyu dan mengajarkannya kepada para nabi dan rasul.

-          Malaikat Mikail, bertugas membagi rezeki kepada seluruh makhluk, menimbang hujan, angin dan juga bintang-bintang.

-          Malaikat Israfil, bertugas meniup sangkakala.

-          Malaikat Izrail (malakul maut), bertugas mencabut nyawa.

-          Malaikat Munkar dan Nakir, bertugas memeriksa amal manusia di alam barzakh.

-          Malaikat Raqib dan Atid, bertugas mencatat amal baik dan buruk manusia.

-          Malaikat Malik, bertugas menjaga dan mengendalikan api neraka.

-          Malaikat Ridhwan, bertugas menjaga pintu surga.

Sifat-Sifat Malaikat

1.      Selalu bertasbih siang dan malam tidak pernah berhenti.  

وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ (19) يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ (20)

Mereka (malaikat) selalu bertasbih (beribadah kepada Allah) pada waktu malam dan siang hari tiada henti-hentinya”. (Al-Anbiya 21:20)

2.      Suci dari sifat-sifat manusia dan jin, seperti hawa nafsu, lapar, sakit, makan, tidur, bercanda, berdebat, dan lainnya.

3.      Selalu takut dan taat kepada Allah.

4.      Tidak pernah maksiat dan selalu mengamalkan apa saja yang diperintahkan-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (6)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahriim 66:6)

5.      Mempunyai sifat malu.

Nabi Muhammad bersabda "Bagaimana aku tidak malu terhadap seorang laki-laki yang malaikat pun malu terhadapnya". Hadits riwayat Muslim.

6.      Bisa terganggu dengan bau tidak sedap, anjing dan patung.

Nabi SAW bersabda "Barang siapa makan bawang putih, bawang merah, dan bawang bakung janganlah mendekati masjid kami, karena malaikat merasa sakit (terganggu) dengan hal-hal yang membuat manusia pun meraa sakit". Hadits riwayat Muslim.

7.      Tidak makan dan minum.

فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ (27)

فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ (28)

“Lalu Ibrahim mendekatkan hidangan kepada mereka (malaikat), lalu berkata, “Silakan Anda makan.” (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu takut.” Dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq)”. (Adz-Dzaariyaat 27-28)

8.      Mampu mengubah wujudnya.

Allah berfirman dalam surat Maryam: 16-19:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا (16)

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا (17)

Artinya: “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (Maryam 16-17)

9.      Memiliki kekuatan luar biasa dan kecepatan cahaya.

Allah berfirman dalam surat Hud: 82, yaitu:

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ (82)

Artinya:  “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan, peny.), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi”. (Hud 82)

2.      Jin, Iblis dan Setan

Pengertian Jin, Iblis dan Setan

Kata Jin berasal dari bahasa Arab artinya menutupi atau merahasiakan, yang dimaksudkan adalah bahwa jin tertutup dari panca indra. Jin adalah makhluk halus yang tidak dapat dilihat, ia  diciptakan dari api. Jin dibedakan menjadi dua yaitu :

a.    Jin Kafir, yaitu jin yang membangkang terhadap perintah Allah Swt.  Para Ahli Tafsir berpendapat bahwa jin kafir adalah jin yang tidak memurnikan ke-Esaan Allah. Sehingga dalam kekafiran jin itu ada yang  bermacam-macam yaitu ada yang Yahudi, Nasrani, Majusi,  penyembah berhala dan lain-lain.

b.    Jin Muslim, yaitu jin yang mengakui tentang ke-Esaan Allah SWt, Jin Islam setelah mendengar  ayat-ayat Al-Qur’an  mereka langsung mengatakan bahwa Al-Qur’an itu menakjubkan dan dapat memberikan petunjuk ke jalan yang benar. Allah berfirman dalam surat alJinn: 1-3 tentang jin mu’min:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا (1) يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ     (3) وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا فَآَمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا (2)

“Katakanlah (hai Muhammad):"Telah diwahyukan kepadaku bahwasannya: sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur'an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur'an yang menakjubkan, ( 1) (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Rabb kami, (2) dan bahwasannya Maha Tinggi kebesaran Rabb kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak”. (3).

Adapun kata ‘Iblis’ berasal dari bahasa Arab, yaitu “Iblasإبلاس artinya putus asa (dari rahmat atau kasih sayang Allah). Sedangkan kata Syetan berasal dari bahasa arab, yaitu “Syaithana” yang artinya jauh. Maksudnya adalah syetan itu sangat jauh dari kebaikan dan sangat dekat  dari keburukan atau kejahatan.

Iblis dan syetan adalah makhluk halus dari golongan jin. Makhluk ini diciptakan Allah dari api. Kerjanya merangsang keinginan nafsu rendah manusia. Iblis adalah makhluk yang pertama kali mengingkari perintah Allah. Syetan  identik dengan iblis. Dengan menyandang nama”Syetan”, dan tidak hanya membangkang terhadap perintah Allah sebagaimana yang dilakukan iblis, tetapi juga menggoda manusia. Iblis sudah ada sebelum Nabi Adam diciptakan dan hidup dalam kalangan malaikat. Iblis tidak hanya mengingkari perintah Allah dan tidak mau menghormati Adam, tetapi juga berusaha menggoda Adam dan Hawa memakan buah terlarang tersebut, sehingga menurunkannya dari surga menuju dunia (bumi).

 

Sifat-Sifat dan Perilaku Jin, Iblis dan Setan

Sifat dan Perilaku  Jin, Iblis dan Syetan

a.   Sifat-Sifat Jin

1. Tidak dapat dilihat oleh indra manusia

2. Diciptakan dari api yang sangat panas

3. Ada yang mengakui ke-Esaan Allah Swt.  dan ada pula yang membangkang perintah Allah.

b.  Perilaku  Jin

Jin juga diperintahkan oleh Allah untuk menerima syariat Islam sebagaimana yang diperintahkan kepada manusia. Menurut sebagian ulama, rupa, tabiat, kelakuan, dan perangai jin mirip manusia. Karena jin juga seperti manusia, mereka pun ada yang baik dan yang jahat, ada  yang muslim dan yang kafir. Jin juga memiliki tingkatan iman, ilmu, dan amalan tertentu berdasarkan keimanan dan amalan mereka kepada Allah Swt.

Walaupun jin Islam yang paling tinggi imannya dan paling shaleh amalannya serta paling luas dan banyak ilmunya, tetapi masih ada pada diri mereka sifat-sifat tercela seperti takabbur, riya’,  ujub,dan sebagainya. Namun bisa saja mereka mudah menerima teguran dan pengajaran.

c.   Sifat Iblis dan Syetan

1. Tidak dapat dilihat oleh indra manusia

2. Diciptakan dari api yang sangat panas

3. Angkuh dan sombong sebagai sifat dasar dari syetan atau iblis.

4. Selalu membangkang terhadap perintah Allah Swt

5. Tidak mati sebelum datangnya hari kiamat.

d.   Perilaku (Tugas) Iblis dan Syetan

Mengingkari perintah Allah dan tidak mau menghormati Adam, tetapi juga berusaha  menggoda Adam dan Hawa memakan buah terlarang.  Menghendaki agar manusia menempuh jalan yang sesat, serta menggoda manusia agar menyeleweng dari petunjuk Allah Swt. Syetan /  Iblis senang jika manusia hidup menderita. Dia akan membinasakan dan menggoda Adam beserta seluruh keturunannya ( yaitu golongan manusia) sampai hari kiamat.

 

Untuk memperdalam pemahaman tentang Iman Kepada Para Malaikat rangkumlah dibuku tulis kalian masing-masing!!!

DALIL PUASA RAMADHAN DALAM AL-QUR'AN DAN HADIST

  Dalil Puasa Ramadhan dalam Al-Qur'an Berikut empat dalil tentang puasa Ramadhan yang ada dalam Al-Qur'an: 1. Surah Al-Baqarah ...